bangunan daerah rawan gempa

Hhmm, masih seputar gempa juga, aku jadi pengen sedikit mbahas dari segi arsitektural (ceileee…) he he. ini sih subjektif lo ya, pure pendapat aku, dari pelajaran struktur yang aku dapet selama ini. Salah satu penyebab utama parah tidaknya kerusakan dan banyaknya korban gempa adalah masalah struktur bangunan. Bangunan tahan gempa, lebih tepatnya tanggap gempa (member waktu lebih lama kepada penghuninya untuk keluar dari rumah sebelum ambruk), seperti yang dah pernah aku bahas sebelumnya, mempunyai struktur yang berbeda dengan bangunan biasa. Di daerah rawan gempa, kita tidak bisa begitu saja mengabaikan masalah struktur. Pondasi rumah, kalau pemilihan struktur, perhitungan, dan pemasangannya tidak benar, bisa berakibat fatal buat bangunan.

img_4215.jpgNah, sekarang kenapa gempa di Yogyakarta tahun 2004 lalu yang hanya 5,9 SR bisa memakan banyak korban dan banyak bangunan yang hancur? Padahal di daerah sumatera yang lebih sering gempa n biasanya kekuatannya lebih besar, bangunannya g terlalu banyak yang rubuh? Permasalahan utamanya bukan pada kuatnya gempa, tapi lebih kepada kekuatan struktur bangunan..

Di sumatera, jelas jarak antar bangunan tidak serapat di jawa. Jadi ketika satu bangunan rubuh, tidak mengenai bangunan tetangganya. Selain itu, karena daerah sumtera sudah sangat akrab dengan gempa, pembangunan rumah/bangunan mereka sudah lebih memperhatikan masalah ini dan memperhitungkan strukturnya dengan lebih teliti.

Sedangkan di Jawa, masyarakatnya kebanyakan masih kurang menyadari hal ini. Dalam membangun rumah-pun tidak memperhatikan masalah peraturan jarak2 bangunan. Saya teringat saat saya pernah menjadi relawan yang mendata kerusakan gempa YK. Waktu itu pemda meminta bantuan mahasiswa sipil dan arsitektur YK-Solo untuk mendata kerusakan akibat gempa di YK-Jateng. Dari sana, bisa dilihat, bangunan yang rubuh biasanya adalah bangunan yang menggunakan struktur alakadarnya untuk membangun rumahnya. Bahkan masih banyak ditemui rumah tanpa tulangan, hanya merupakan tumpukan batu bata yang di susun. Beton/tembok bata bersifat kaku, statis. Bila beton di pasang tanpa penahan, tulangan, struktur, jelas saja akan mengalami keretakan dan rubuh ketika di guncang oleh gempa.

Mungkin karena pulau Jawa dulunya jarang sekali terkena gempa, apalagi di atas 5 SR, jadi masyarakat masih banyak yang membangun bangunan sekadarnya tanpa memikirkan struktur. Apalagi bangunan2 lama yang banyak ditemukan di jawa. Jarak antar bangunan yang sangat rapat juga membuat semakin banyak rumah yang rubuh (menjalar dari satu rumah ke rumah yang lain). Jelas, kan penyebab utma kerusakan di Jawa apa?

Nah, mulai sekarang masyarakat di daerah rawan gempa seharusnya mulai memperhitungkan gaya vertical dan horizontal, dan memikirkan struktur bangunan dengan baik bila ingin membangun bangunan. Tidak Cuma di Jawa, siapapun yang tinggal di daerah rawan gempa harus memperhatikan dan memperhitungkan struktur dengan baik bila ingin membangun rumah. Hal simple yang perlu diperhatikan, bentuk bangunan sebaiknya sederhana saja agar penyaluran gaya dan bebannya lebih sederhana n stabil. lebihkan panjang tulangan/begisting kolom/sloof/balok kira2 50cm untuk di tekuk dan saling dikaitkan pada titik2 pertemuan (kolom dengan balok, balok dengan balok, kolom dengan sloof) agar ikatan struktur bangunannya lebih kuat. Hal ini bisa mengantisipasi adanya beban horizontal yang terjadi saat gempa. Trus, seperti yang sudah pernah saya sarankan, agar dinding tidak ambruk saat terjadi goncangan, lebih baik lagi bila kita memberi tulangan diagonal dan horizontal pada dinding sebelum dinding di plester.

Sebenarnya ada banyak metode yang bisa diterapkan untuk membuat rumah kita lebih tanggap gempa. Kemarin saat saya berdiskusi banyak dengan pak Kahar dan bu Ummul masalah bangunan2 tanggap gempa yang banyak dibangun di YK-Klaten, saya jadi lebih banyak tahu. Selain cara simple tadi, kita juga bisa membangun rumah dengan menerapkan struktur plat lantai 2 pada lantai 1 rumah kita. Seluruh lantai ditutupi tulangan, seperti sloof yang meluas. Lebih tepatnya terlihat seperti balok dan plat lantai 2. Tetapi biayanya, jelas jauh lebih mahal. Tapi tingkat tanggap gempanya jauh lebih baik.

Selain itu ada juga metode yang menggunakan bambu sebagai tulangan dinding. Jadi dindingnya tidak menggunakan bata sebagai bahan penutup utama. Awalnya tembok dinding dipasang kira-kira 1 meter sebagai penguat struktur utama bambunya di sepanjang dinding. Setelah itu bamboo yang sudah dipotong tipis2 di anyam silang di struktur utama dinding bamboo tadi. Setelah terpasang, itu langsung di cor (diisi beton). Jadi dindingnya tidak menggunakan bata, tetapi beton dengan tulangan bamboo. Belum ada penelitian mendalam sih tentang metode ini, baru diterapkan di YK. Tapi masuk akal juga, kan? Bamboo itu sifatnya elastis jadi saat terjadi gaya horizontal dan vertical, bangunan bisa lebih stabil.

Ada juga menggunakan bahan seperti karet sebagai struktur utama (yang ini saya belum begitu paham), ada juga struktur dome yang jelas lebih stabil penyaluran gayanya dan lebih tanggap gempa dan angin kencang (lihat penjelasan saya tentang rumah dome di postingan terdahulu). Dome juga tahan angin kencang karena bentuknya yang tanpa sudut membuat angin tidak begitu tertahan bangunan dan langsung diteruskan. Tapi penggunaan struktur dome di daerah tropis, apalagi di Indonesia (masalah kultur) masih membutuhkan banyak penyesuaian. Karena bentuk dome-nya membuat hawa di dalam rumah jauh lebih hangat daripada luar rumah.

Hhmm… jadi sekarang jika ingin membangun rumah atau bangunan di daerah rawan gempa, jangan lupa perhitungkan strukturnya, ya. Disesuaikan dengan cost juga. Semakin banyak costnya, jangan Cuma semakin besar bangunannya, tapi harusnya buat bangunan semakin aman dan nyaman. Buat apa bangunan besar jika mudah ambruk saat gempa atau bencana lain? Keamanan tetap yang utama

(^_^)

About these ads

About presty larasati

an ordinary independent wonder woman. a wife from great husband, and a mom for a beautiful daughter. i'm a workingmom who wanna be an "ibu profesional".. ^^

Posted on October 1, 2007, in all about architecture, tips seputar rumah. Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. *mathuk-manthuk*
    gitu ya pres.
    jadi paham *dikit* nih kalo bangun rumah ongkosnya jadi mahal banget ya, apalagi metode kedua itu :)

  2. eh kelupaan
    jangan lupa oleh-olehnya ya :)

  3. Ketigax
    Selamat datang kembali Pres :)

  4. mosok pres….plat lante 2 dibuat pd lantai 1 apa g da cara lain apa…..kalo rumahnya g besar pa kmu gak sumpek pres… ingt badan…..he2….

  5. to kelik satriya :
    lah, piye toh? g mudheng, ta? tu hasil diskusi dengan bu Ummul tercinta.. takok’o bu’e nek isih ra mudheng.. he he :lol:
    aku g reti maksudmu menghubungkan aplikasi plat lantai itu dengan besaran rumah… ya klo besarannya, g ngefek lah, hay…. he he :)
    biasanya kan lantai 1 g di cor, gada tulangannya… nah, dengan tulangan ini insya Allah bila diguncang gempa, tarikan2 pada ikatan anatr tulangannya akan menstabilkan beban rumah. jadi lebih fleksibel gtu… masih g jelas, lik? hubungi bu Ummul.. he he :))

  6. bagusssssssssssssssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: