Birth Story of Aathifah Zafiriah, Gentle Birth ~ part.2


rencananya mau ngadoin setahunnya kak riri 19 Desember kemarin sama postingan lanjutan cerita kelahirannya. tapi apa daya, baru bisa lahir sekarang tulisannya. heheheee.. :mrgreen:
postingan kali ini isinya tentang cerita lanjutan dari Birth Story of Aathifah Zafiriah. yang belom baca part 1-nya, monggo baca dulu di sini

150285_10151207323277647_561115180_n

Hari-hari menjelang HPL pun tiba. Tanggal 17 Desember, HPL saya sudah tinggal beberapa hari lagi. birth plan saya dan kak riri telah di ACC suami. tapi apa daya, bubidan Yesie, provider persalinan yang saya pilih, yang berada di daftar pertama birthplan saya saat itu malah sedang berada di Bontang dari tanggal 14-18 Desember! :mrgreen:
saya hanya bisa pasrah menunggu kepastian dari Allaah, memilihkan birth plan manakah yang terbaik menurut Allaah untuk kami.. dan akhirnya birth plan yang di ACC oleh Allaah adalah………

[CONTINUE READING]

Birth Story of Aathifah Zafiriah, Gentle Birth ~ part.1

Alhamdulillaah, akhirnya datang juga kesempatan untuk saya membayar hutang ke diri sendiri untuk menuliskan pengalaman saya melahirkan anak pertama saya. xixixii..

New Born Baby Aathifah Zafiriah

New Born Baby Aathifah Zafiriah

9 bulan yang lalu, pada tanggal 19 Desember 2012, tepat sehari sebelum hari lahir saya, saya berhasil melahirkan putri pertama kami, Aathifah Zafiriah (Kak Riri) dengan persalinan yang gentle dan ramah jiwa. kisah kelahiran setiap bayi tentu berbeda-beda. pun halnya dengan cerita kelahiran putri pertama kami yang luar biasa menyenangkan dan membahagiakan. well, here’s me n my baby’s story…

Continue reading

:: Untouched Wheelchair ::

Kelopak matanya tak sepenuhnya terpejam. Masih cukup jelas terlihat pupilnya yang legam menyala. Sambut isak bapak dan tangis adikku kuacuhkan sesaat di depan pintu ketika aku sampai di rumah ini. Aku hanya mampu mematung, tidak berkata-kata dan hanya diam, mencoba dengan dini mengikhlaskan kepergiannya tanpa menyentuhnya. Aku ikhlas. Hanya di dalam hati, ujung bibir ini tak bisa menggema mengucapkannya, karena memang ada penyesalan yang kusimpan.

Lima jam yang lalu, aku berpamit padanya untuk kembali ke kost. Dengan jawaban yang sangat sederhana, anggukan dan gumam “he-eh” saat kuusap lengan kirinya yang membaring, dia memberikan ijin. Kupikir dia sedang benar-benar penat hingga tak seperti biasanya tak memberikan tangan kanannya untuk kucium. Dengan tanpa firasat, aku pulang dengan sedikit keriangan atas kepulangannya dari Catleya 311 sore ini. Juga kelegaan karena telah membawakan satu permintaannya, beriring dengan kabar gembira dan ucapan terima kasih padamu.

 Image

Lobi-lobi berikut paman gembul mengantarkan putaran roda ini, dengan bayangan kegembiraannya esok hari saat dia duduk di atas kursi roda itu. Tak lagi aku menunda merebahkan tubuh sesampainya di kost. Tiga jam terpejam, aku terbangun dan segera bersuci kemudian berkeluh kesah dengan menengadahkan kedua tangan penuh harap kepada Sang Pemberi Berkah.

Niat untuk berkutat pada belaian bantal tertunda saat panggilan telpon dari Bapak yang memintaku kembali. Bergegas aku meluncur. Baru 5 km berjalan, inilah waktu dia dipanggil, meski tak diungkapkan oleh Bapak yang menelepon menanyakanku dan berpesan untuk berhati-hati di jalan. Tak ada yang mampu menghalangi kehendak Sang Maha Pencipta, hingga telah kudapati dia terbujur di depanku. Matanya yang tak menutup, mengisyaratkan ada yang masih diharapkan olehnya. Mungkinkah kehadiranku yang ditunggu??

Mom will never ever use it, even touch by fingertips

Hard for me, but I try to be tough

-@yandhagtau-

my 7th month pregnancy

alhamdulillaah, genap 7 bulan Allah menitipkan kejaiban cintaNya dalam rahim saya. dan saya masih melaksanakan long distance marriage dengan suami (Solo-Bengkulu). bahkan, demi menabung untuk menyambut kehadiran buah hati tercinta, kami harus ikhlas mengurangi intensitas pertemuan menjadi 3 bulan sekali.

beberapa mengatakan wanita hamil yang jauh dari suaminya biasanya fisiknya jauh lebih kuat dan tegar daripada bumil yang serumah dengan suami. well, saya setuju dengan hal ini. alhamdulillaah sampai sekarang belum ada keluhan berarti selama saya mengandung. jika dibandingkan teman sekantor saya yang harus masuk rumah sakit 2x dalam seminggu, tentu keadaan fisik saya jauh lebih saya syukuri. Tapi saya sangat tidak setuju ketika teman saya yang hyperemesis tersebut mengatakan kepada saya :
“kamu enak mba, ga ngerasain kan muntah2 sampe gabisa nelen ludah sendiri? ga ngerasain masuk rumah sakit 2x dalam seminggu”

Continue reading

trimester pertama di kehamilan pertama

tahun pertama pernikahan kami, ada banyak sekali hal yang saya syukuri. meskipun sampai sekarang, saya dan suami masih juga menjalani long distance marriage, tapi Allaah sungguh banyak melimpahkan berkah ke dalam rumah tangga kami.. :)

Alhamdulillah, setelah beberapa kali menawar beberapa rumah, di ulang tahun pertama pernikahan, kami sudah bisa membeli rumah sendiri di daerah Solo Baru. Rumah yang sederhana tapi super nyaman, lingkungan sekitarnya pun sangat kami sukai. dekat pula dengan beberapa fasilitas umum dan sekolah yang bagus di Solo…

Saya ingat betapa saya dan suami di hari ulang tahun pernikahan kemarin merasa sangaat bersyukur atas nikmat yang luar biasa tersebut. meskipun di tahun pertama pernikahan, nikmat tersebut masih kami berbagi berdua saja..

tapi ternyata, nikmat yang Allaah berikan dalam keluarga kecil kami tidak berhenti sampai di sana. sepulang dari Solo, saya positif hamil. Subhanallaah, hasil testpack pagi itu membuat saya berlinangan airmata dalam sujud syukur saya. sungguh, rejeki Allaah itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka. padahal, seminggu kepulangan saya dari Solo, saya sempat terpeleset d kamar mandi dalam posisi terduduk. Saya sudah benar-benar pasrah waktu itu. tapi ternyata, Allah berkehendak menguatkan janin dalam kandungan saya… betapa bersyukurnya saya dan suami..

Continue reading