pasar gedhe surakarta

pasargede1.jpg

TENTANG PASAR GEDHE

Pasar gedhe merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang bernama Balai Kota Surakarta.

Pasar Gedhe dulunya dibangun sebagai mediator perdagangan bagi masyarakat Belanda-Cina-pribumi pada saat itu, dengan harapan, hubungan antara etnis-etins tersebut yang semula penuh konflik dapat berlangsung harmonis

Bangunan ini di desain oleh arsitek belanda, Ir. Thomas Karsten yang saat itu menjabat sebagai gubernur Belanda. Dalam sejarahnya, Karsten adalah orang yang menganut paham demokrasi dan sangat menghargai budaya. Arsitektur pasar gedhe merupakan perpaduan antara gaya belanda dan gaya tradisional.

Pasar gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Masing masing terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama pasar gedhe. Diberi nama pasar gedhe karena memiliki atap yang besar.

PRILAKU MASYARAKAT PENGGUNA PASAR

Bangunan pasar trdisional pada umumnya hanya merupakan bangunan petak beratap sederhana yang kotor, tidak memiliki sirkulasi, masukkan cahaya, sirkulasi udara, dan komunikasi yang baik di dalamnya.

Karsten mengetahui kekurangan ini. Oleh karena itu, dia tidak ingin membangun pasar tradisional seperti ini. Dengan bijaksana dia memperhatikan kebudayaan dan kebiasaan dari masyarakat pengguna pasar,agar bangunan nantinya terasa nyaman digunakan oleh para penggunanya.

Melalui pengamatannya, Karsten menemukan berbagai perilaku pengguna pasar yang telah membudaya di dalam pasar. Biasanya, para pedagang membawa dagangannya ke pasar dengan gendongan yang sangat tinggi yang diletakkan di punggungnya, hingga mereka membutuhkan bangunan dengan ketinggian yang leluasa.

Selain itu, para pedagang juga butuh berinteraksi dengan pedagang yang lain. Mereka memanfaatkan saat-saat berinteraksi tersebut untuk mengurangi kejenuhan, mencari barang dagangan yang tidak mereka miliki ke pedagang lain, atau hanya sekedar unuk bersosialisasi.

Agar kenyamanan lebih terasa, Karsten juga mendapatkan kesimpulan bahwa di dalam pasar pun dibutuhkan sirkulasi yang baik. Baik itu sirkulasi pengguna pasar itu sendiri, masukkan cahaya yang cukup dan sirkulasi udara yang baik agar udara di pasar tidak menjadi pengap dan lembap.

APLIKASI BUDAYA DAN DAMPAK PERILAKU PENGGUNA PASAR PADA DESAIN PASAR GEDHE

Dengan menganalisis hasil pengamatannya ini, Karsten akhirnya membangun sebuah pasar yang berbeda dengan pasar tradisional lainnya. Pasar Gedhe dibuat bertingkat dengan void yang lebar. Pada lantai 2, lebar lantainya hanya 4m. lantai 2 pada pasar ini tidak penuh di atas lantai pertama pasar. Hal ini membuat ruangan di lantai pertama menjadi lebih tinggi, sehingga para pedagang dapat dengan leluasa membawa gendongan dagangannya ke dalam pasar. Selain itu, bangunan ini dibuat tingkat sebagai sarana aktualisasi.

Lantai 2 dibuat dengan void yang lebar, selain untuk sirkulasi pedagang pembawa gendongan dagangan, juga untuk memudahkan komunikasi antara pedagang di lantai 1 dan pedagang di lantai 2.

Atap di Pasar Gedhe dibuat tidak sama dengan atap pasar yang lain. Atapnya dibuat bertingkat dengan lubang ventilasi yang lebar. Lubang ventilasi ini berfungsi untuk memasukkan udara dan cahaya yang cukup ke dalam bangunan, sehingga pasar menjadi tidak lembap, pengap, dan menjadi cukup cahaya (terang). Dengan begitu, para pengguna pasar, baik pedagang maupun pembeli akan merasa nyaman saat melakukan transaksi di pasar ini.

Pasar Gedhe-pun, sampai sebelum renovasi pada tahun 2000, merupakan pasar yang ideal, bersih, dan memberikan kenyamanan pada penggunanya. Hal ini merupakan hasil pemikiran Carlsten yang demokratis, yang tidak terpengaruh pada instant culture (hanya memikirkan kepentingan sendiri, yang dipentingkan kecepatan pambangunan, bukan kualitas hasil rancangan). Pasar Gedhe merupakan wujud dari apresiasi Carsten terhadap khasanah budaya Solo pada saat itu, yang tidak terkukung pada kebiasaan.

Hal ini merupakan pelajaran berharga bagi seorang arsitek. Ketika kita mendesain suatu bangunan, kita harus merenungi dan memperhatikan dengan cermat khasanah dan akar budaya daerah setempat, agar kita bisa menghasilkan karya yang mengakar budaya di masyarakat. Dalam mendesain suatu bangunan, hendaknya kita mengetahui roh yang sesungguhnya, tidak terpengaruh dengan instant culture, dan trend pada saat itu. Karena dengan mengetahui akar budaya masyarakat, kita bisa menghasilkan karya yang luar biasa dan sesuai dengan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s