architecture and global warming

Global warming saat ini bukan sekedar isu belaka dan tidak bisa diabaikan. The US Snow and Ice Data Centre di Colorado mencatat pencarian es telah mencapai 4.28 juta km2. Akibat pemanasan global ini, perubahan cuaca ekstrem akan sering terjadi. Pentingnya masalah ini membuat tidak kurang 190 negara bersama organisasi-organisasi intergovenrmental dan NGO dari seluruh dunia mengadakan konferensi di Nusa Dua, Bali yang baru saja selesai sabtu lalu (15 Desember 2007).

Para ilmuwan sepakat, peningkatan CO2 dan gas-gas lain yang dikenal sebagai gas rumah kaca (greenhouse gases) ke atmosfer merupakan penyebab pemanasan global. Greenhouse gases ini akan menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi (Baron Jean Baptiste Fourier (1820), penggagas teori โ€œgas rumah kacaโ€). CO2 sendiri memiliki peran dominan dalam mengatur suhu planet. Jurnal saintifik (1985) melaporkan terjadinya lubang besar pada lapisan ozon di atmosfer di atas Antartica yang selanjutnya dikenal dengan fenomena Ozone Depletion (pelubangan ozon).

Betapa prihatin rasanya ketika saya membaca satu fakta di salah satu bulletin arsitektur yang menyatakan bahwa arsitek merupakan musuh utama penyebab global warming. Hal ini membuat saya, yang selama ini tidak begitu peduli, menjadi tertarik dengan isu global warming yang ternyata erat kaitannya dengan dunia profesi yang akan saya jalani. Studi konsultan energy Inggris, Max Fordam, mengatakan bahwa bangunan mengonsumsi 50% total konsumsi minyak nasional Negara-negara maju yang energy dependent (Indonesia 36-45%). Hal ini memperlihatkan betapa rentannya peran arsitek dalam menyumbang CO2 yang memicu pemanasan global.

Bagaimana bisa? Berawal dari masa arsitektur industri (1800-1900), dimana tampilan arsitektur dunia didominasi oleh arsitektur modern dengan paham internasionalismenya. Bangunan arsitektur merupakan hasil produksi manufaktur industri. Komponen komponen bangunan dapat di produksi secara masal dan dipergunakan dimana saja tanpa terlalu mempertimbangkan karakteristik iklim dan budaya lokal dan minimalisasi ornamentasi. Karya arsitektur pada masa ini mengandalkan konsumsi energi secara besar besaran baik pada masa pembangunannya maupun pada masa operasionalnya.
Untuk memperoleh kenyamanan visual dan thermal (kontrol lingkungan), penggunaan AC(Air Conditioning) dan lampu yang boros energy menjadi jalan keluarnya. Penemuan elevator pengganti tangga atau peralatan-peralatan ME lainnya membuat manusia menjadi terbiasa, tanpa sadar menggunakan energy berlebihan. Padahal Untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dalam bangunan, kondisi lingkungan internal (temperatur, kelembaban, tingkat iluminasi) dapat diatur tanpa ataupun dengan menggunakan peralatan teknologi mekanikal elektrikal yang menggunakan energy dari sumber yang tidak dapat diperbarui.

Dr. Ir. Eddy Priyanto, CES, penerima Award PII 2007 untuk Konsep Rumah Hemat Energi, mencatat rata-rata bangunan (rumah dan gedung) menghabiskan 35-40% energy untuk AC. Belum lagi penggunaan lampu pada siang hari (karena desain bangunannya kurang memaksimalkan pemanfaatan cahaya alami). Beliau juga dengan tegas menyatakan bahwa bangunan yang tidak hemat energy adalah 80% kesalahan desain arsitekturnya. Sebuah fakta dan justifikasi yang menyakitkan namun merupakan tantangan bagi para arsitek pada masa kini.

Krisis energi ini ternyata memacu perkembangan arsitektur baru dengan desain sadar energi (energy conscious design). Hal ini juga diikuti dengan perubahan langgam arsitektur yang merupakan wujud kebosanan terhadap ke-kaku-an arsitektur modern sejak abad 20. Penampilan arsitektur pasca industri ini dipelopori dengan langgam post-modern yang memberi tempat pada aspek iklim maupun budaya regional, berkarakter spesifik sesuai dengan konteks lokal. Berawal dari rekonseptualisasi tentang arti arsitektur ditengah lingkungan global alami, kontemporer, inovasi disain berorientasi pada energi, disain sadar energi (energy conscious design) mulai mendapat tempat dan parameter hemat energi mulai menjadi salah satu kriteria dalam perancangan arsitektur.

Karya-karya arsitektur seperti Crystal House (Keck Brothers), Dymaxion house (Buckminster Fuller) yang berdasarkan konsep efisiensi energi dan produksi industry, proposal Mediterranean House (Le Corbusier), dan kontribusi akademik dari Olgyay bersaudara dalam publikasi ilmiahnya Design with Climate memberikan justifikasi keterlibatan para arsitek dalam isu efisien Arsitektur Bioklimatiksi energi, meskipun gaungnya teredam oleh euforia revolusi industri dan international movement dari arsitektur modern.

Keprihatinan-keprihatinan di atas, mendorong timbulnya pemikiran baru dalam perancangan arsitektur yang kemudian dikenal sebagai arsitektur hijau (green architecture), yaitu Arsitektur yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan kepedulian tentang konservasi lingkungan global alami dengan penekanan pada efisiensi energi (energy-efficient), pola berkelanjutan (sustainable) dan pendekatan holistik (holistic approach). (Jimmy Priatman).

Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam konsep green architecture ini pada setiap gedungm perkantoran, maupun perumahan adalah skala ruang, jumlah ruang(efektifitas dan efisiensi), penzoningan yang tepat, peletakan ruang, penghawaan alami yang baik, dan pencahayaan alami yang baik (bisa menggunakan konsep penyinaran hijau). Adapun prinsip dasar perancangan arsitektur hijau ini dapat diformulasikan dalam matriks berikut ini :

tabel.jpg

Beberapa karya arsitektur hijau yang terkemuka antara lain :
Nagoya Tower, T.R. Hamzah & Yeang (urban design vertical)
Audubon House, NYC, Croxton Collaborative Architects
Four Times Square, Fox & Fowle architects
Les Garennes, Perancis, L. Bouat et al

Well, arsitek boleh jadi teroris utama global warming selama ini. Tapi desain hemat energy dan segala macam klasifikasinya merupakan penawarnya. Green architecture bisa jadi merupakan bentuk tanggung jawab para praktisi arsitektur terhadap fakta bahwa sektor bangunan menyumbang 50% gas rumah kaca. Ini namanya bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan, tidak hanya meminta maaf dan menunggu dunia semakin panas dan tenggelam. Selain itu, prinsip-prinsip dasar arsitektur hemat energy dan arsitektur hijau juga memberi banyak manfaat bagi kita semua. Harga listrik yang bisa ditekan, kenyamanan visual dan thermal yang alami, suasana ruangan yang lebih cair, dan membantu memperpanjang usia bumi kita. Ternyata manfaat yang kita dapat selain untuk diri kita, juga untuk dunia. Bila bangunan bisa menghemat konsumsi energinya, berarti semakin sedikit pula CO2 yang dilepaskan ke atmosfer.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan manfaat maksimal dari desain hemat energy ini? Untuk para prkaktisi, hendaknya memiliki posisi tawar yang kuat di depan klien untuk meyakinkan klien atas pentingnya desain hemat energy bagi semua. Mulailah berlomba-lomba merancang karya arsitektur yang hemat energy. Tapi, desain arsitektur hemat energy ini tentunya tidak akan berpengaruh banyak bila kita sebagai penghuninya tetap tidak mau berhemat. Untuk semua pengguna bangunan (means all of us), mulailah berpartisipasi mengantisipasi global warming dengan hal remeh yang ternyata sangat besar manfaatnya : menghemat penggunaan listrik di rumah. Matikan listrik setelah selesai digunakan. Mulailah malu menjadi orang yang bergantung pada hal-hal yang memboroskan energy. Selanjutnya kita bisa membuat taman kecil di rumah kita. Sekecil apapun sisa lahan itu. Sekecil dan se-sedikit apapun tanaman itu. Bila memang tidak ada lahan yang bersisa sama sekali, kenapa tak mencoba green roof? Tanamlah apa saja di atas atapmu (usahakan tanaman yang memberi banyak manfaat, ex:tanaman obat-obatan). Segala sesuatu ternyata memang berawal dari rumah, bukan?

At the first you make habbits, at the last habbits make you ^_^

6 thoughts on “architecture and global warming

  1. bener neh..
    harus di rubah gaya hidup nya…
    yang tadi nya naek mobil bisa di mulai naek sepeda, jelas hemat dan sehat…
    kayaknya titik beku akan berpindah deh dari utara ke selatan???

  2. Wah, postingan hebat mba… meski panjang sekali tapi enak sekali dibaca. Ajakan untuk kalangan terbatas yang menarik sekaligus mengajak masyarakat luas juga untuk bijak terhadap apa yang menjadi pilihannya yang berdampak kepada kenyamanan bumi kita tercinta ini.
    Comment ini juga sekaligus sebagai balasan atas kunjungan mba yang tidak menyertakan link diblog saya sehingga membuat saya sempat bingung. Saya juga udah add alamat blog mba di blog saya. Terima kasih…

  3. bagus banget infonya mbak… Moga-moga aja para arsitek kita bisa menyikapi permasalahan global warming ini dgn bijak.

    >> amin ummu nisa… semoga bukan hanya para arsiteknya saja, tapi juga kita semua, para penghuni๐Ÿ™‚

  4. hy….
    i’m new Comer…
    bagus banget mb tulisannya…
    q tertarik banget soal ni, secaraa….Q lg mo TA di Architecture Yogya.
    boleh donk, kita knalan….?

    >> wah… sedang berjuang di TA ya? sama duong… lagi mulai melangkah menuju TA. kan seribu langkah kita dimulai dari langkah yang pertama… arsitektur mana? GANBATTE, fenny!!! semoga kita sukses!! amin…. ^_^

  5. start with not using plastic bags and turn off the unused electricity in your home. earth will not change by itself if we, who inhabit it, keep on living carelessly…

    nice post๐Ÿ™‚

    >> that’s trully right… wise advice, ape..๐Ÿ™‚
    bener, semua berawal dari diri sendiri. dengan menghemat pemakaian energi listrik, memisahkan sampah, dll..
    like i said, at the first we make habbits, at the last habbits make us

  6. takkan melayu hilang di dunia.orang melayu memang boleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s