Suatu Paradigma Tentang Sebuah KEGAGALAN

pict-orang-gagal

GAGAL
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata ini. Setiap orang pasti pernah melewati yang namanya kegagalan. Bahkan sejak kecil. Ketika kita belajar berdiri, kita pasti jatuh dulu berkali-kali.

Lalu, apa itu kegagalan? Satu merk rokok mengatakan, kegagalan adalah enjoy yang tertunda. Ada yang bilang, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Begitu banyak definisi tentang kegagalan yang bisa kita dapatkan. Tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan, kata para pembesar. Sebagian besar motivator akan bilang bahwa kegagalan itu satu ibu dengan keberhasilan. Mereka bilang, bila kita telah melewati kegagalan, maka bersiaplah menerima keberhasilan. Lebih formalnya, berdasarkan KBBI terbitan Balai Pustaka, gagal berarti tidak jadi, tidak berhasil, tidak tercapai maksudnya.

Bagaimana sebagian besar orang menghadapi kegagalan yang dialaminya? Sebagian orang, ketika mengalami kegagalan dalam suatu hal, kadang merasa putus asa, terkadang menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Akhirnya kegagalan ini membuat dirinya berhenti berusaha mencapai apapun, membuatnya berhenti memimpikan apapun yang berkaitan dengan kegagalan yang pernah dia alami. Bahkan parahnya, berhenti memimpikan apapun dalam hidupnya.

Sebagian besar, yang merasa dirinya lebih optimis, merasa kegagalan adalah pertanda bahwa apa yang dia usahakan dan gagal dia dapatkan memang bukanlah untuknya. Hal ini membuat dia tidak lagi (menurutnya) membuang waktu untuk kembali memperbaiki usahanya, kembali mengusahakan apa yang telah dia mulai. Membuatnya melupakan keinginan dan impiannya yang menurutnya gagal ia raih, kemudian memilih untuk memulai impian baru dari awal. Umumnya dibilang, memulai hidup baru.

Ternyata, sebagian kecil orang yang berhasil, menganggap bahwa kegagalan itu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Mereka tidak takut akan kegagalan. Bukan berarti dia selalu berhasil, tidak pernah jatuh, tidak pernah tersandung. Tapi mereka meyakini, bahwa kegagalan merupakan suatu proses menuju keberhasilan. Mereka tidak takut gagal, karena bagi mereka tidak ada orang gagal di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang terlalu cepat berhenti berusaha meraih impiannya.

Ketika mereka memimpikan sesuatu, mereka berlari untuk meraihnya. Berkali-kali mereka terjatuh, tetapi mereka tidak lantas menyerah untuk bangkit kembali. Mereka tidak berhenti dan berbelok, atau bahkan merubah tujuan, tetapi mereka bangkit dan berlari di jalan yang sama, dengan strategi dan cara yang baru untuk mencapai tujuan awal mereka.

Sebagai contoh, Thomas Alfa Edison ketika menemukan lampu, apakah penemuan itu hanya suatu kebetulan? Apakah dia menemukan lampu di tepi jalan? TIDAK. Dia melakukan eksperimen ribuan kali. Itu artinya, untuk menemukan lampu yang sekarang menerangi gelap malam kita, Thomas Alfa Edison gagal berkali-kali, jatuh berkali-kali. Percobaan yang dia lakukan nyaris membakar lab-nya. Ledakan-ledakan yang dia alami juga tidak bisa dihitung dengan jari. Tapi apa yang dia lakukan? Apakah dia berhenti bereksperimen? Lalu, apa saran dari orang lain untuknya? “Sudahlah Thomas, kamu sudah gagal ratusan kali… g bosen-bosen ya buat ngeledakin lab sendiri? Sudah, buat saja sesuatu yang lain. bukan rejekimu buat nemuin lampu.. kamu sih, mimpi terlalu tinggi…”

Nah, sering g denger kata-kata seperti itu? Sering, g? Apa jadinya bila Thomas saat itu menyerah dengan ledakan-ledakan yang dia alami? Bagaimana malam kita? Lalu apa yang membuat dia tidak menyerah? Dia tau, dia yakin, bahwa dia pasti akan berhasil. Dan dia tidak peduli dengan kata kegagalan. Dia tidak mau berhenti berusaha menemukan lampu.

Lalu bagaimana dengan kita? Sebenarnya menurut saya, kegagalan itu memang tidak ada. Yang ada hanya belum berhasil. Yang ada adalah orang yang berhenti terlalu cepat dalam meraih impian mereka. Orang yang pasrah begitu saja menerima keadaannya, “Yah, mungkin memang inilah takdirku..”

Tidak, bukan berarti saya mengatakan takdir itu tidak ada. Takdir itu ada. Memang sudah di tulis Allah untuk kita. Tapi takdir itu, nikmat yang Allah berikan, bisa kita ubah sendiri. Allah tidak buta akan usaha kita. Allah tidak buta atas apa-apa yang kita lakukan. Dalam Kitabullah disebutkan dengan jelas, “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum SEBELUM mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS:13:11).

Terkadang, keadaan yang tidak kita inginkan memang menimpa kita. Tapi itu bukanlah sebuah kegagalan. Mungkin melalui berbagai sandungan, Allah sedang memperingatkan dan menguji kita, Allah ingin kita mempelajari sesuatu dari setiap keadaan buruk yang menimpa kita. Mungkin kita terlalu sombong, maka Allah membuat kita berada di bawah, membuat kita merasakan posisi sebagai orang yang pernah kita anggap rendah. Mungkin juga Allah ingin mengajarkan keikhlasan dan kesabaran pada kita, karena kita terlalu berambisi dan lupa melihat sekeliling kita ketika kita berlari meraih impian kita. Kita hanya perlu yakin, dalam setiap cobaan, pasti ada hikmahnya. Tapi kita tidak gagal. Cobaan yang kita alami adalah suatu bekal buat kita, untuk meneruskan perjalanan kita meraih mimpi. Banyak orang bilang, kita dewasa karena masalah. Jadi, kita juga bisa berhasil sampai ke tujuan karena kita pernah jatuh.

Orang-orang yang selalu membuat target dan tujuan baru ketika (menurutnya) dia gagal meraih tujuan sebelumnya, adalah orang yang memutuskan berhenti meraih impian mereka ketika jatuh. Mereka tidak gagal, mereka hanya berhenti terlalu cepat dalam meraih sesuatu. Pilihan itu sebenarnya bukan untuk memilih teruskan yang lama atau pilih yang lain, tapi tentang bangun dan teruskan mengejar impianmu atau berhenti.

Lalu bagaimana dengan kegagalan mencapai target yang telah ditentukan? Target tentang nilai, target tentang waktu? Ketika target itu tidak tercapai, apakah kita gagal? Tidak, kita tidak gagal. Hanya belum berhasil. Kegagalan tentang waktu bukanlah kegagalan. Tujuan kita bukan waktu atau nilainya, tapi tujuan utama kita adalah apa yang ingin kita wujudkan. Misal, target lulus kuliah dalam 4 tahun. Sebenarnya, target utama kita adalah 4 tahun itu atau lulus kuliah? Lulus kuliah, kan? Kita masih punya kesempatan meraih target itu. (hu hu, ini keadaanQ sekarang..).

Nah, yang kita perlu lakukan dalam hidup ini sebenarnya mudah, tentukan apa yang benar-benar kita inginkan. Fokus pada keinginan kita. Bukan pada kegagalan kita. Dan bila ingin belajar dari orang lain, belajarlah dari orang yang tepat. Ingin jadi dokter? Jangan belajar dari petani. Ingin berhasil? Maka jangan belajar dari orang yang memutuskan berhenti meraih impiannya terlalu cepat.

Yah, setidaknya itu yang berhasil aku simpulkan dari perjalanan hidupku sampai saat ini. Paradigmaku, perubahan pandanganku tentang arti sebuah kegagalan. Dulu aku pernah merasa bahwa aku orang yang gagal. Lalu aku pernah juga menjadi orang yang merasa tujuanku bukan takdirku, dan mencoba menentukan tujuan lain. padahal, sesungguhnya selama tujuan yang kita tentukan sesuai dengan syariat agama, dan tidak merugikan khalayak, maka sah-sah saja bila kita tetap fokus pada tujuan itu. Dan ingat, jangan menargetkan pada hal-hal yang kecil, buatlah tujuan untuk sesuatu yang besar.

So? Jangan terburu-buru memutuskan untuk berhenti meraih sesuatu. Jangan terburu-buru memutuskan untuk mengubah tujuan kita. Ingat, tidak ada orang gagal, yang ada hanyalah orang yang berhenti terlalu cepat. (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s