Birth Story of Aathifah Zafiriah, Gentle Birth ~ part.2


rencananya mau ngadoin setahunnya kak riri 19 Desember kemarin sama postingan lanjutan cerita kelahirannya. tapi apa daya, baru bisa lahir sekarang tulisannya. heheheee..:mrgreen:
postingan kali ini isinya tentang cerita lanjutan dari Birth Story of Aathifah Zafiriah. yang belom baca part 1-nya, monggo baca dulu di sini

150285_10151207323277647_561115180_n

Hari-hari menjelang HPL pun tiba. Tanggal 17 Desember, HPL saya sudah tinggal beberapa hari lagi. birth plan saya dan kak riri telah di ACC suami. tapi apa daya, bubidan Yesie, provider persalinan yang saya pilih, yang berada di daftar pertama birthplan saya saat itu malah sedang berada di Bontang dari tanggal 14-18 Desember!:mrgreen:
saya hanya bisa pasrah menunggu kepastian dari Allaah, memilihkan birth plan manakah yang terbaik menurut Allaah untuk kami.. dan akhirnya birth plan yang di ACC oleh Allaah adalah………

Sabtu, 15 desember 2012
subuh itu saya terbangun dan mendapati flek darah berwarna pink yang keluar. dan saya tahu, ini adalah salah satu tanda persalinan, meskipun belun merasakan kontraksi. waow, saya langsung terngiang kalimat mba kapster kemarin (baca Birth Story of Aathufah Zafiriah, Gentle Birth ~ part 1), mba kapsternya jago ngeramal euy.. :p
dengan perasaan gembira campur aduk deg2an, saya bangunkan suami dan berusaha selembuut mungkin memberitahukan kondisi ini. selembut mungkin, supaya pak suami ga panik. hehhee, namanya anak pertama, dan tempat bersalin tujuan saya jaraknya hampir 1 jam dari rumah menggunakan mobil. siapa yg ga panik? hahahaa.
langsung aja dong pak suami masuk2in bajunya dan mandi rapi jali siap siaga nganterin ke klaten sewaktu2.
setelah saya menghubungi bu yesie dan klinik BK subuh itu, saya merasa lebih tenang. mereka meminta saya menunggu kontraksi berjeda 15 menit sekali baru berangkat ke klaten. karena saya belum merasakan kontraksi, saya pun lebih santai, dan melanjutkan aktivitas saya nongkrong di atas birthing ball sambil nonton dan sesekali ngemil eskrim (eskrim terooos:mrgreen: )

saya juga tidak lupa menelepon mama, sehalus mungkin (berusaha tidak membuat mama panik) mengabari bahwa saya sudah mendapat sinyal pertama persalinan. meminta mama yang di bengkulu untuk segera cari tiket ke solo. ternyata mama memang sudah memesan tiket sabtu itu, tapi hanya ke jakarta. dan berencana ke solo pada hari senin, karena ada urusan di jakarta. berhubung pagi itu saya kabari, mama langsung panik. gacuma mama, kayaknya keluarga di sana pada panik dehh (maklum, saya anak pertama mama yang berencana melahirkan normal. kakak saya 2x bersalin secara sc. jadi mungkin deg2annya beda kali, yah? hehee), dan segera membatalkan tiket sore dan menggantinya dengan tiket conect bengkulu-solo yang paling cepat. padahal tiap ditelpon saya berusaha serileks mungkin. saya tidak menyangka keluarga di bengkulu sebegitu paniknya. tapi berhubung udah dipesen tiketnya, saya seneng2 ajaa.. hehehee..

mertua saya yang kebetulan waktu itu menginap di rumah kami, menjadi bingung bin galau, karena pada saat bersamaan mendapat kabar bahwa kakak ipar saya (yang kebetulan juga sedang hamil besar) sudah menunjukkan tanda2 persalinan anak ketiganya. kakak ipar akan segera dibawa ke bidan, dan ibu mertua diminta menemani. berhubung saya masih belom merasakan kontraksi, kami memutuskan agar ibu mendampingi kakak ipar. dan bila tanda persalinan saya mulai terasa semakin kuat, ibu akan diantarkan kembali untuk menemani ke Klaten.

nahh, siang itu mama berangkat dengan perasaan campur aduknya. jam 3 mama sampai jakarta untuk transit. mama telepon dan mengatakan dy merasa mules seperti orang ingin melahirkan tiap 5 menit sekali. membuatnya tidak sanggup berdiri setiap kali perutnya kontraksi. melalui telepon, saya berusaha menenangkan mama, mengatakan bahwa saya baik2 saja, dan meminta mama menghubungi pegawai bandara untuk meminjam kursi roda bila memang mama kesulitan.. mama merasakan mules itu hingga sampai di solo. sesampainya di rumah saya pukul 8 malam, dengan wajah terlihat lelah (mungkin nahan mules 5 menit sekali bikin mama capek), mama kecewa, karena mendapati saya masih adem ayem pake daster, masih duduk di atas birthing ball di depan TV sambil makan eskrim! hueheheheheee… lah kontraksinya belom kerasa.. :)))

dan malam itu, berhubung sinyal dari kakak baru flek darah, kami bertiga bisa tidur nyeyak.. ^^

Minggu, 16 Desember 2012
pagi itu terbangun lagi dengan segar bugar. flek darah masih keluar dan warnanya mulai semakin tua. tapi kontraksi belum muncul. pagi itu juga kami mendapat kabar bahwa kakak ipar saya telah melahirkan malam harinya. dan kami (saya, mama, suami) segera menjenguk kakak ipar di klinik bidan.
di klinik bidan, saya berencana memeriksakan VT kandungan saya, siapa tau sudah mengalami bukaan, tp bidannya tidak di tempat, dan mengetahui saya belom merasakan kontraksi, asisen bidannya hanya memeriksa tensi, DJJ, dan BB saya.

bu yesie juga selalu memantau perkembangan saya melalui telepon dan SMS. bubid menenangkan saya, mengingatkan saya untuk selalu rileksasi dan berdoa. dan mengatakan sudah mengkondisikan klinik BK bila saya harus melahirkan tanpa bu yesie. jadi, kalo kontraksi terasa 15 menit sekali, saya bisa langsung meluncur ke BK.

dan malam itu, saya mulai merasakan sinyal lanjutan dari kak riri. tapi entah itu kontraksi atau bukan, saya mulai merasakan mules. mulesnya sebenarnya biasa saja. saya masih sangat bisa mengatasinya. jadi saya belum mengabari suami dan mama. siapa tau cuma braxton hicks.. hehee..
setelah saya hitung dan ternyata mulesnya (seperti) intens 10 menit sekali, tengah malam itu saya membangunkan suami. dan mengabarkan saya merasakan mules 10 menit seklali. kamipun membangunkan mama dan bersiap2. mengingat itu tengah malam dan jarak rumah kakak ipar jauh, kami memutuskan tidak menjemput ibu mertua. jadilah jam 2 pagi kami membelah keheningan malam menuju klinik BK yang sudah saya kabari sebelumnya. saya menikmati perjalanan itu dengan suka cita. mama yang melihat saya tenang2 saja, jadi bingung..
“dek, beneran kontraksi? kok kayaknya biasa2 ajaa? ga sakit kah?”
huahahahaaa…

sesampainya di BK, saya disambut asisten bidan BK, mba widya dan mba ulya. setelah mba ulya memeriksa tensi dan denyut jantung janin, mba widya melakukan pemeriksaan VY, dan mendapati bukaan saya baru 1. baru SATU! dan itu bukaan sempit.. hahahaa, penonton kuciwaaa :p
mba wid dan mba ul memberikan pilihan, kembali ke solo dan datang lagi ke Klaten setelah kontraksi terasa 15 menit sekali dan waktu kontraksinya lebih lama atau menunggu persalinan di klinik. saat itu, klinik berkamar 3 itu sudah kedatangan 2 ibu hamil, bunda Ani (Jogja) dan bunda Ajenk (Solo). dan status keduanya sama seperti saya, bukaan 1. kamar yang tersisa adalah kamar ukuran paling kecil. tapi mengingat saat itu masih fajar, dan jarak solo-klaten yang lumayan, kami memutuskan untuk tinggal dan menunggu persalinan di Klinik BK.

kamar kami di BK, saksi bisa proses persalinan kala I saya.. ^^

kamar kami di BK, saksi bisa proses persalinan kala I saya.. ^^

Senin, 17 Desember 2012.
kami sudah di BK, dan Bu Yesie masih di Bontang. tapi bu Yesie sudah menyiapkan bidan pengganti, siapa tau ada dari tiga ibu hamil ini yang akan melahirkan selama bu Yesie di belom pulang. bu Yesie mengabari beliau akan tiba di Klaten sore menjelang maghrib. dan kami bertiga belom menunjukkan perkembangan yang berarti. pagi itu para ibu2 ini saling kenalan. diantara kami bertiga, bunda Ani terlihat yang paling intens dan sakit kontraksinya. setiap kontraksi, bunda Ani seperti ingin menangis menahan sakit. sedangkan saya dan bunda Ajenk masih santai2 saja. merasakan kontraksi dengan lebih rileks. selidik punya selidik, ternyata diantara kami bertiga, bunda Ani tidak mengikuti kelas Hypnobirthing persiapan persalinan. dan perbedaan itu terlihat sekali.

sementara bunda ani kesakitan di klinik, pagi itu saya, mama, dan suami masih bisa jalan2 sarapan keluar dan mengunjungi rumah Budhe saya yang tidak jauh dari klinik, mengabari saya sedang menunggu persalinan di sana. siangnya saya masih jalan kaki sambi cuci mata ke toko Rabbani dan luwes yang memang dekat dari klinik. siang itu intensitas kontraksi saya berkurang (entah emang ga kerasa, atau saya yang santai banget jadi ga ngerasa..😀 ), jadi saya masih bisa santai2. saya sebenernya waktu itu bingung, karena saya tidak tahu rasanya kontraksi. yang saya rasakan, saat kontraksi (klo bisa disebut kontraksi) terasa, perut bagian bawah saya sedikit nyeri. sama seperti halnya rasa tidak nyaman saat melilit masuk angin atau saat PMS. tapi perut saya tidak terlalu mengencang. saat perut saya mengencang, saya hanya merasakan layaknya gerakan janin seperti biasa. benar-benar nyaman. sampe2 saya bertanya ke mba ulya :
“mba, kontraksi itu gimana tho? aku ini kontraksi apa bukan ya?”
*jdeeeeennngg!!
(akhirnya saya memutuskan menetapkan rasa nyeri yang saya rasakan tiap beberapa menit sekali di perut bagian bawah itu sebagai kontraksi. meskipun tanpa rasa kencang di perut hehehee:mrgreen: )

siang itu juga ahli akupuntur datang, dan kami bertiga diterapi akupuntur. saya yang terakhir diakupuntur setelah diketawain mba ulya dan mba widya karena emoh akupuntur. saya phobia jarum!!! dan membayangkan tubuh saya ditusuk beberapa jarum yang dialiri listrik, membuat saya keder! hahahaaa
tapi berhubung 2 ibu hamil lain yang notabene badannya lebih kecil dari saya berani dan menghasut saya, dan si ibu ahli akupuntur mencobakan jarumnya di tangan saya tanpa saya merasa sakit, jadilah saya akupuntur juga! huaaahahahaa
rasanya masih nyelekit juga (beda pas dicobain bu akupuntur ga sakit lho! huhuhu). tapi enak.. heheheee..
akupuntur di titik2 tertentu ini bertujuan untuk memancing kontraksi, sehingga mempercepat persalinan. setelah pada akupuntur, ternyata kami bertiga masih belom menunjukkan banyak perubahan. hahahaa.. kecuali bunda Ani yang merasa semakin nyeri.

Malam setelah maghrib, bu yesie akhirnya datang ke BK. HOREEEE!!!! Setelah sedikit konsul, bu Yesie pulang ke rumah untuk beristirahat, muka bu Yesie saat itu terlihat lelaaahh sekali. saya pun masuk kamar dan istirahat. nah, malam itu kontraksi kembali melanda, dengan jeda 10 menit sekali. tetapi masih saya rasakan hanya beberapa detik saja. pukul 2 pagi saya terbangun untuk buang air kecil, dan melihat ada bu Yesie. saya pikir ada yang akan melahirkan, tapi ternyata bunda Ani meminta bu Yesie datang ke klinik dan memeriksa VT karena merasa kontraksinya semakin hebat (selama di BK memang kami belum di VT lagi. bidan melihat perkembangan kami melalui tanya jawab : gimana rasanya mba? kontraksinya udah kerasa gimana? ). ternyata, bunda Ani baru mengalami bukaan 2. wuihh, bukan 2 begitu rasanya. lah saya ini bukaan berapa yak? kontraksinya aneh begini, pikir saya saat itu.. hueheheee

Selasa, 18 Desember 2013
Setelah semalaman tertidur dengan kontraksi yang aneh itu, pagi saya terbangun dengan segar dan rasa kontraksi yang berkurang dari semalam. haha, kontraksinya aneh tenan pokoknya. pagi itu saya jalan pagi keliling kampung bersama suami (ih, mesra banget ga sih? :p ) dan melanjutkan dengan makan Sop Ayam Pak Min Klatn yang terkenal itu lhoo. tidak lupa saya membeli jus nanas dan duren. katanya duren n nanas ini bisa membantu kontraksi, maka saya dengan suka cita memakannya! hahahaaa.. kalaaap!!!

Menjelang siang bu Yesie datang, dan kembali memeriksa VT Bunda Ani. ternyata masih bukaan 2. jadi bu Yesie merileksasi bunda Ani. setelah rileksasi dilanjutkan dengan akupresure. ga cuma bunda Ani, saya dan Bunda Ajeng pun kebagian rileksasi n akupresure. rasanya rileeeks banget! akupresure di titik2 yang memancing kontraksi rasanya super deh! hehee.. tapi lama2 kerasa enaknya..😀

Sorenya bu Yesie dateng lagi. tanpa ba bi bu, bertanya pada kami :
“hairspa yuk!”
hyaaaahh!! saya dan bunda Ajenk dengan suka cita dan gembira menyambut ajakan itu. saat itu Bunda Ani terlihat lebih nyeri, sehingga menolak ajakan bu yesie. kamipun berganti baju dan segera naik mobil bu Yesie menuju salon langganannya. Hairspa sambil sesekali merasakan kontraksi itu super nikmat. bener2 nikmat loh. apalagi dibayarin Bu Yesie hairspa-nya.. xixixi..

Rabu, 19 Desember 2012,

malam itu kontraksi yang saya rasakan semakin intens. meski jarak antar kontraksi tidak teratur, tapi tiap kali kontraksi, rentang waktunya semakin panjang. menjadi sekitar 30 detik. alhamdulillaah saya masih bisa tertidur. meskipun seringkali bangun untuk BAK. tapi tiap kontraksi datang, masih sangat bisa saya atasi. entah dengan bergoyang, duduk2 di birthing ball, atau pose2 gajelas lainnya yang membantu meredakan rasa tidak nyaman:mrgreen: . alhamdulillaah napas perut dan rileksasi yang saya pelajari benar-benar membantu.

pukul 02.00 dini hari
pintu kamar diketuk beberapa kali. kebetulans aat itu saya baru dari kamar mandi. ternyata bubid Yesie datang untuk pemeriksaan dalam (VT). ini VT kedua saya di Bidan Kita sejak kedatangan saya pertama kali di BK. Sebelum VT, mba Ulya memeriksa denyut jantung janin. pemeriksaan pertama DJJ 117, ekspresi muka mba ulya agak berubah, mengguncang-guncang doppler dan tetap tenang mengulangi pemeriksaan DJJ. pemeriksaan kedua didapat DJJ 120, sambil tetap mengguncang-guncang doppler. katanya, sepertinya batrenya mau habis. kemudian dilanjutkan Bubid Yesie yang melakukan pemeriksaan dalam. agak lama Bu Yesie melakukan VT. beliau memberitahukan bahwa saat itu saya sudah bukaan 5, sama seperti Bunda Ajeng dan Bunda Ani (sambil becanda, bu Yesie sempet ngobrol sama Janin saya: walaah, meri (ikut2an, red) nih si kakak. gamau ketinggalan dari 2 temennya. kok semua bukaan 5, pada janjian kayaknya.. hayooo, nanti yang duluan siapa? kakak mau duluan? (saya ikutan nyengir, lucu ngebayangin 3 anak di perut bundanya masing2 ini lomba duluan2an lahir, hahahaa)
daaannnnn gacuma itu! dengan raut dan intonasi supeeeerrr tenaaannng, bu yesie mengatakan dia bisa merasakan langsung rambut dari si janin, which means, ketuban saya telah pecah! saya mengalami KPD a.k.a Ketuban Pecah Dini. :mulai shock inside:
dan hebatnya, saya ga ngerasa! hauuu… memang hasrat BAK saya bertambah dan tiap kali BAK, saya merasakan jumlahnya semakin banyak. tapi saya pikir biasa saja, karena saya memang banyak minum.
(sampe dikatain mba Ulya : “mba presty, mba presty.. mba ni lucu banget! kontraksi gatau rasanya, KPD ga ngerasa juga.. heeyaaahhhh…” bikin saya cuma bisa garuk2 kepala)

langsunglah saya mengingat-ingat artikel2 yang saya baca untuk mengatasi KPD. hal paling utama adalah : TENANG! maka saya berusaha untuk tenang. melihat reaksi Bu Yesie yang masih super tenang, benar-benar membantu saya untuk tenang. saya memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada suami dan Mama saya supaya mereka tidak panik.. (klo mereka panik, saya yg susah. heheheh)

Bu Yesie kemudian meminta Mba Widya untuk melakukan pemeriksaan DJJ kembali. didapatlah DJJ Kak Riri sedikit bertambah menjadi 122. DEG! tetiba saya ingat betul beberapa artikel yang saya baca menyebutkan DJJ untuk persalinan normal sebaiknya berada di antara rentang 120-160 rpm. 117-120-122 (hasil pemeriksaan DJJ), berarti janin saya sedang melemah. saya sedikit harap2 cemas. terbayang saya harus mengikuti birth plan saya yang kedua, tindakan medis ke RSI Klaten. tapi segera saya tepis, dan saya kembali optimis. berusaha fokus mengingat apa2 yang harus saya lakukan untuk mengatasi KPD. saya benar2 pasrah pada Allaah, berusaha tetap tenang, terus rileksasi, memperkuat rasa yakin saya pada tubuh saya, bayi saya, Allaah, dan alam semesta. mengajak komunikasi kak Riri yang berada di dalam perut (Kakak, kita sekarang sudah di Bidan Kita. semua sudah siap menyambut kakak disini. ayo nak, kuat, bunda tau kakak kuat. tapi kalo kakak memilih rencana yang lain, bunda siap nak. dimanapun, apapun, bunda siap). selain itu, saya juga mempercayakan sepenuhnya proses persalinan saya pada Bu Yesie. apapun yang beliau sarankan akan saya ikuti.

Bu Yesie menyarankan saya meminum 3 gelas cairan elektrolit (plus minyak ikan klo ga salah) yang dibuatkan mba Widya. glek glek, langsung saya minum habis. kemudian beliau menyarankan saya untuk terus rileksasi, dan BANYAK MINUM. alhamdulillaah, bagi saya yang gentong ini, banyak minum bukan hal yang sulit..:mrgreen:

Pukul o7.oo
Bu Yesie memeriksa keadaan saya (menanyakan bagaimana perkembangan kontraksi), dan miminta saya untuk melakukan USG di ruang pemeriksaan. dari hasil USG, terlihat bahwa air ketuban hanya tinggal di atas, tidak lagi mengelilingi kakak (rasanya deg2 plas). lalu DJJ diperiksa, amazing! DJJ kakak naik jadi 127.. saya usper pasrah waktu itu, apapun yang BU Yesie sarankan akan saya patuhi. Bu Yesie pun menyarankan saya untuk suntik guna melunakkan leher rahim (bukan induksi ya.. ^^ ). setelah mempertimbangkan masak2 (selain karena phobia jarum,hahahaa) akhirnya saya memilih meniyakan suntikan pelunak leher rahim itu. setelah disuntik di p*nt*t, saya disuruh minum air minyak lagi (dan saya muntahkan.. huhu, maaf ya bu). bu Yesie kemudian menyarankan saya untuk terapi moxa, yang dibantu suami saya. jadilah pagi itu saya dan suami nongkrong di depan TV, saya duduk di atas birthing ball sambil sedikit pelvic rocking, dengan 2 moxa di dekat kelingking kiri-kanan dan satu moxa di arahkan suami di punggung saya. rasanya nyamaan sekali.. ^^

Pukul 11.oo
Seharian itu, Mba Ulya, Mba Widya, n Bu Yesie, intens sekali menanyakan perkembangan kontraksi dari kami bertiga (saya, Bunda Ajeng, bunda Ani). pukul 11 itu, melihat bunda Ani dan Bunda Ajeng mulai merasakan gelombang cinta yang lebih hebat, Bu Yesie merileksasi kami bergantian. tiba giliran saya yang terakhir (sepertinya karena gelombang cinta dari kakak belo sekuat 2 temennya), pertama2 bu Yesie melakukan pemeriksaan dalam. didapat informasi bahwa saya sudah bukaan 7 menuju bukaan 8. WAOW! ga kerasaaa.. hehehee. dan lucunya, ternyata bunda Ani juga bukaan 8, dan Bunda Ajeng bukaan 7 menuju 8. bener2 janjian ni kayaknya 3 bayi. wkwkwkwk

saat rileksasi (hypnobirthing) bersama bu Yesie, saya didampingi pak suami. saya benar-benar menikmatinya. hingga saya tertidur pulas selama 15 menit! xixixi. lumayan banget kan, bukaan 7-8 bisa tidur puleess less less! sampe saya bermimpi bertemu dengan sahabat saya bernama Heppy saat bu Yesie merileksasi saya menggunakan kata2 Happy (persalinan itu Happy, menyenangkan…). dan kata pak Suami, saya tertidur sampe ngorok! wkwkwkwk…
setelah sesi rileksasi, saya memutuskan menikmati bukaan yang terasa makin intens berdua dengan suami di kamar.. cuma berdua. bertiga sama kakak yang masih di perut. duhh, so sweeet banget ga sihh?😀

Pukul 15.oo
saya dan suami masih berduaan di kamar. sejak pukul 12.oo, Bidan Kita sudah mulai hectic. ruang VK sudah disiapkan. kolam persalinan di ruang VK sudah disiapkan. kolam persalinan tambahan juga sudah dipompa dan dimasukkan ke kamar Bunda Ajeng (kamarnya paling luas diantara kami bertiga).

di dalam kamar, saya menikmati kontraksi yang makin intens bersama suami. tiap kali kontraksi terasa, saya melakukan gerakan apa saja, mengikuti tubuh saya, untuk mencari posisi yang nyaman. kadang saya berdiri sambil sedikit berdansa bersama suami, kadang saya berjalan mondar-mandir, kadang saya bersimpuh dan bergoyang sambil memeluk birthing ball. kontraksi saya semakin intens, tapi tetap saja yang terasa hanya pada perut bagian bawah. dan bila kontraksi berhenti, saya tidur. iya, saya TIDUR! wkwkwkwkwk..
beberapa menit sekali Mba Ulya dan Mba Widya bergantian menanyakan perkembangan kontraksi saya.

U/W (Ulya/Widya) : mba, kontraksinya gimana?
S (saya) : udah makin deket jaraknya mba, dan kayaknya rentang waktunya makin lama
U/W : Udah kerasa sampe mana?
S : ya masih perut bawah aja mba yang kerasa
U/W : pinggangnya udah kerasa?
S : belom
U/W : punggungnya?
S : mmm, nggak deh kayaknya, biasa aja..
U/W : (bingung) pinggulnya juga belom kerasa mba?
S : (lebih bingung) ngga mba, cuma rasanya perut bawah aja, makin kerasa..
-kemudian hening-

dan mba Ulya/Widya cuma geleng2 kepala sambil nyengir. mereka kemudian hanya berpesan kalau mulai terasa di pinggang, pinggul, punggung, panggul, hubungi mereka.
mama yang waktu itu menunggu diluar bersama Budhe saya, ternyata sudah mulai sibuk membantu ke-hectic-an di BK. info dari mama, bunda Ani sudah masuk Ruang VK untuk bersalin. Bunda Ajeng juga sudah masuk kolam persalinan karena kontraksinya semakin terasa.

Pukul 16.oo
Mama menanyakan kondisi saya, yang masih sama. hanya saja rentang waktu kontraksinya semakin lama. dan semakin terasa mules diperut bagian bawah. dari mama saya tahu bahwa Bunda Ajeng telah melahirkan bayinya, perempuan, dengan berat 3,7. kebetulan mama melihat proses persalinannya yang hanya 15 menit sejak masuk ke Kolam persalinan.
wihhh, saya jadi terpacu doong. jadi semangaat! apalagi tahu Bunda Ajeng juga sudah berada di dalam Kolam persalinan. saat itu sempat terlintas di benak saya, sambil berbicara ke kakak (ohya, sejak tahu saya KPD, saya teruuus berkomunikasi dengan janin saya.. ^^ ) : “kak, tu temennya yang satu dah lahir lho. kakak kapan? mau nunggu yang satu lagi lahir juga kah?”

dan pukul 4 itu kontraksi saya semakin terasa. segala macam posisi saya coba untuk menyamankan diri. tiba-tiba yang saya lakukan saat itu duduk di tepian tempat tidur dan otomatis, saya mengangkat kedua kaki saya seolah-olah ingin melahirkan. sedikit panik (karena tau saat itu bu Yesie masih membantu persalinan Bunda Ani dan Bunda Ajeng seudah di Kolam persalinan) langsung saya bilang pada suami saya :
“pak pak, loh kok ini kaki bunda ngangkat sendiri giniii? pak, coba panggil bidannya pak, cepet”

dan datanglah suami bersama Mba Widya. dengan tenang Mba Widya memeriksa DJJ kakak. Amazing, alhamdulillaah DJJ kakak mengnkat menjadi 137 (saya lupa tepatnya). yang artinya kakak mendengarkan saya, dan kakak berjuang bersama saya. saat itu, flek darah yang keluar juga semakin banyak. Mba Widya meminta saya untuk sabar menunggu sebentar karena Bu Yesie sedang mengobservasi Bunda Ajeng di Ruang VK.

Tidak berapa lama Bu Yesie dengan senyum menenangkannya datang ke kamar saya, menanyakan perkembangan. kemudian Bu Yesie melakukan pemeriksaan dalam. Sambil tersenyum, Bu Yesie bilang : “waah, Kakak meri beneran deh ini. mau lahir juga ya? ini bukaannya udah lengkap mba”
Subhanallaah!! saya benar2 bersyukur mendengarnya. Kemudian Bu Yesie meminta suami saya menyampaikan hal ini pada Mba Widya dan membersihkan kolam persalinan yang dipakai Bunda Ajeng, Mengisinya dengan air hangat, dan meminta Bunda Ajeng kembali ke kamarnya bila sudah siap.

agak lama pemeriksaan dalam waktu itu. Sambil VT, Bu Yesie meminta saya untuk mencoba menahan hasrat untuk mengeden dengan nafas : HAAAHH, HAAAHH, HAAAH..
tapi bukannya nafas HAAAH benar yang keluar, melainkan HAAAH rintihan yang langsung dikoreksi Bu Yesie : hayoo, jangan merintih.. dengan sigap saya mengkoreksi diri saya. tapi akhirnya, yang keluar kemudian adalah tawa kencang saya : HAA HAA HAAAH HAA
(mama yang liet sampe geleng2 heran.. wkwkwkwk)

Suami kemudian datang ke kamar, mengabarkan bahwa Air sudah terisi setengah, dan kata Mba Widya, saya sudah bisa masuk ke Kolam Persalinan. Bu Yesie kemudian meminta saya untuk berjalan menuju Ruang VK

“Mba, kolamnya udah siap, mba presty udah bisa masuk ke kolam. tapi mba Presty harus jalan, bisa?”
“BISA bu!” (semangat banget)
“tapi jalannya harus cepet2 lho, soalnya ini udah bukaan lengkap. bisa?”
“SIAAPP!!” (semangat 45)

dan langsung saya berdiri, berjalan dengan sigap, tegap, dan cepat menuju ruang VK, meninggalkan Bu Yesie di belakang (note, jarak dari kamar ke ruang VK kurleb 12m), langsung masuk ke kolam persalinan dengan mantap! (Belakangan saya tahu dari Bu Yesie, saat itu dia pun kaget melihat saya begitu tegapnya jalan menuju Ruang VK, wkwkwkwk).
begitu masuk kolam persalinan, saya hampir membuka daster yang saya kenakan sampai kemudian bu Yesie berkata :
“mbak, jangan buka baju dulu.. itu suaminya mba Ani masih ada..”
DOEEENNG! hahahaaa
jadilah hasrat untuk mengganti baju dengan kaos yukensi yang disediakan BK saya tahan dulu, xixixi

sempet ngerasa bersalah juga sama Bunda Ani karena persalinan saya jadi memburu2 dia untuk segera kembali ke kamarnya. padahal waktu itu klo tidak salah, bunda Ani kondisinya tidak terlalu fit, saya lupa, ada sedikiti masalah apa waktu itu sehingga BUnda Ani beberapa kali jatuh karena lemas. dan karena saya buru2 masuk, IMD Bunda Ani dan Baby Hafidzah cuma sebentar aja… huhuhu, maaf ya bund..😀

Pukul 18.00
jarak waktu antara bukaan lengkap hingga kepala kak riri crowning, membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. waktu yang lumayan lama yaa (pemberdayaan dirinya kurang nih kayaknya, hehehee). selama 2 jam di kolam persalinan menanti crownig, saya berusaha untuk tetap rileks. suasana ruang bersalin yang nyaman, temaram pun membuat saya lebih rileks. alhamdulillaah terasa menyenangkan, membayangkan kakak sedang mencari jalan untuk keluar dari rahim saya, menemui kami semua yang mencintainya. saat kontraksi melanda, sesekali Bu Yesie menyarankan saya untuk menahan hasrat mengejan. dan berkali2 pula nafas perut itu berakhir dengan tawa keras saya. sesekali saya merubah posisi, mengikuti irama tubuh saya mencari posisi yang nyaman. saat kontraksi berhenti, saya bisa bersandar di pinggir kolam, minum teh dan makan telur ayam kampung untuk menambah energi, atau tidur. iya, lagi2 saya TIDUR di antara kontraksi. secara emang disediain bantal empuk sama bu Yesie di pinggir kolam persalinan, ya saya manfaatkan dengan maksimal.. xixixi.
(belakangan mama ngaku, kalau dy benar2 luar biasa heran, baru kali ini melihat orang melahirkan pake ketawa2 ga jelas, makan, dan tidurr!! huahahaa.. itulah enaknya Gentle Birth..😀 )

selama menanti crowning itu, saya didampingi suami yang sigap sekali dan tenang. dy mengelus-elus punggung saya (endhorphin massage), memeluk saya, memegang tangan saya, menciumi saya, menyemangati saya, mengingatkan saya untuk tetap rileks dan berdoa, dan sesekali mengambilkan teh dan telur ayam kampung rebus jika saya meminta..

Bunda Ani masih membutuhkan pengawasan karena ada sedikit masalah juga. Bunda Ajeng yang sudah masuk Kolam persalinan sejak Sore pun masih terus memerlukan pemantauan. selama saya di kolam, Bu Yesie tetap mendampingi saya dengan tenaaaang sekali. walaupun saya tau beliau pasti sedikit sibuk, karena tiap sebentar menanyakan perkembangan BUnda Ajeng yang saat itu didampingi Mba Ulya di kamar sebelah. saya dalam hati sempat berkata, “kak, gimana nih, Bunda Ajeng juga udah mau lahiran lho nak, kakak mau keluar kapan?”:mrgreen:

Mama dan Budhe selama saya di kolam persalinan sibukk mondar-mandir membawakan sepanci besar air panas (soalnya menunggu water heaternya untuk menghangatkan kolam persalinan sebesar itu membutuhkan waktu lam.. hehehee). pokoknya mama supeeeeerrr sibuk. apapun yang bisa mama bantu untuk memudahkan 3 bidan yang sedang mengurusi 3 ibu bersalin saat itu, pasti akan mama lakukan. termasuk waktu itu merekam proses persalinan saya (meskipun hasil akhirnya ga jelas, karena disambi ngapa2in, xixixi). so thankfull to mama! Bu Yesie juga merasa sangaat terbantu. karena hari itu memang super hectic.

Azan Maghrib berkumandang, Bu Yesie pun berkata : nah, kak Riri kayaknya mau nunggu maghrib nih keluarnya ya? dan tidak berapa lama, kakak mulai crowning. untuk menyemangati saya, Bu Yesie meminta pak suami mengambil gambar penampakan kepala anak saya yang sedang crowning. saya pun memegang rambutnya. dan saat bu Yesie meminta saya semangat mengejan, sayapun dengan semangat mengejan. akhirnya, tepat pukul 18.05, Kak Riri lahir dalam kolam persalinan disambut tangan hangat Bu Yesie, dan langsung diletakkan dalam dekapan saya..

Subahanallaah, rasanya sungguh luar biasa bahagia ketika saya pertama kali mendekapnya, menatapnya, membelainya.
sesaat waktu seperti terhenti untuk kami. sampai sekarang pun masih bisa saya rasakan betapa bahagianya saya saat itu..

saat itu plasenta kak riri masih berada dalam rahim saya, dan tali pusar Kak Riri masih terhubung dengan plasenta. beberapa saat saya menikmati momen itu, sambil bidan membersihkan saluran napas Kak Riri. setelah beberapa lama, bu Yesie meminta saya berdiri dan keluar dari kolam persalinan, pindah ke kasur bersalin untuk melahirkan plasenta saya. dengan sigap saya berdiri dan pindah ke kasur persalinan yang didekatkan ke kolam persalinan, sambil mendekap kak riri.

di atas kasur bersalin, sambil IMD (Inisisasi Menyusui Dini), bu Yesie mengeluarkan plasenta dari rahim saya. saat IMD itu, kakak diletakkan di perut saya dan Kak Riri merayap sendiri di atas badan saya mencari-cari puting susu saya. Subhanallah, ajaib sekali! dan rasanya benar-benar luar biasa. sampai saya tidak merasakan saat bu Yesie mengobservasi saya dan memberikan 3 jahitan pada perineum saya. oksitosin benar-benar bekerja menggantikan obat bius!
setelah 40 menitan kak Riri merayap di atas badan saya dan menyusu sebentar, Bu Yesie meminta saya berpakaian dan pindah kembali ke kamar. kami tidak bisa lama2 berIMD ria di ruang VK, karena bunda Ani sudah menunggu untuk masuk ke ruang VK. dan kolam persalinan yang saya gunakan tadi harus segera dipersiapkan untuk Bunda Ani.

kak riri bersama plasentanya

kak riri bersama plasentanya

Sayapun kembali ke kamar dibantu suami (sebenernya saya masih kuat lho berjalan sendiri lho, xixixi, tapi BU Yesie meminta pak suami menuntun saya. jaga2 kalau saja saya tiba-tiba kelelahan di jalan menuju kamar). dan Kak Riri diambil Mba ulya untuk kemudian dibersihkan. setelah memastikan suhu AC menjadi 30 derajat, Mba Ulya membawa Kak Riri yang sudah terbedong beserta mangkuk plasenta yang masih menyambung dengan pusarnya ke kamar saya. dari sana didapat informasi bahwa Kak Riri lahir dengan BB 3,1kg dan panjang 51cm. saya kembali merasa amazing, merasa komunikasi saya lagi2 berhasil dengan Riri. saat hamil, saya berkali2 berkomunikasi dengankakak, berdiskusi memintanya lahir dengan berat di atas 3kg dan di bawah 3,5kg untuk memudahkan proses persalinan normal nantinya. dan ternyata Kak Riri menepatinya dengan BB lahir 3,1kg!

Pukul 9 malam

487207_10151303803127647_1749039535_n

ini dia 3 bayi yang membuat hectic BK tanggal 19 Desember 2012. Bunda Ani – Hafidzah, Bunda Ajeng – Grace, Saya – Kakak Riri

kamipun mendapat kabar bahwa Bunda Ajeng sudah melahirkan baby Grace-nya. Alhamdulillaah, ke hectic-an Bidan Kita hari itu selesai. tepat berjarak 3 jam-3jam, 3 bayi perempuan dari 3 bunda lahir dengan proses Gentle Birth dibantu 3 Bidan tangguh di Bidan Kita. feel amazing! sampe sekarang saya masih terheran2 sendiri mengingat hal itu. membayangkan ketiga bayi perempuan ini mungkin seudah janjian sejak pertama kali mengantri untuk ditiupkan ruhnya di rahim bundanya masing2. janjian lahiran di BK dan menentukan urut2an yang akan lahir. hebatnya mereka lahir benar-benar berurutan, tidak berlomba. bayangkan bila ketiganya memilih lahir pada jam yang sama.. xixixi. mereka pintar, memilih jarak waktu yang tepat agar bidan2 di BK dapat mempersiapkan semuanya dengan baik..  Subhanallaah..

Kamis, 20 Desember 2012

Tanggal 20 Desember, bertepatan dengan hari ulang tahun saya, dan hari itu, saya mendapatkan surprise dari Bidan Kita yang tiba2 menyatroni kamar saya dengan membawa Kue Ulang Tahun. benar2 Ulang Tahun teridah dalam hidup saya… Kado terindah di Ultah tanggal cantik, 2012-2012 adalah kehadiran Kak Riri. Allaah memberikan kado terindahnya untuk saya dengan mengijinkan saya mendapatkan persalinan yang saya inginkan. Alhamdulillaah, terima kasih Allaah..

ohya, tentang tali pusar kak Riri, artikel-artikel GB yang saya baca banyak menceritakan manfaat penundaan pemotongan tali pusar dan saya memutuskan untuk menunda pemotongan tali pusar Kak Riri. baru tanggal 20 itu, setelah Kak Riri berjemur bersama Yangutinya yang terlihat exited dan dimandikan oleh Mba Ulya (sambi saya diajarkan cara memandikan dan memassage), tali pusar Kak Riri diputus dengan cara dibakar. yup, delayed umbilical cord dan burning cord menjadi pilihan saya.

proses burning cord. liet deh, betapa tenangnya Kak Riri saat proses ini

proses burning cord. liet deh, betapa tenangnya Kak Riri saat proses ini

 


sore itu, kami memutuskan untuk langsung kembali ke Solo. Pengalaman persalinan pertama saya di Bidan Kita selama 4 hari, sungguh tidak akan pernah saya lupakan. cita-cita saya dikabulkan Allaah. perjuangan saya untuk mendapatkan peralinan Gentle Birth berbuah manis. Alhamdulillaah saya bisa membuktikan pada diri saya dan pada ibu2 lain, bahwa persalinan yang menyenangkan , nyaman, minim trauma, dan minim rasa sakit itu ada! dan saya merasakan manfaatnya hingga saat ini. Kak Riri menjadi baby gentle yang luar biasa..

meskipun saat persalinan itu belum 100% gentle karena saya masih mengejan, kurang senyum saat persalinan kalaII, prosesnya lumayan lama, dan perineum saya masih robek, tapi semua sudah menjadi keberhasilan besar buat saya. menjadikan semangat untuk saya belajar lebih baik bila suatu saat nanti Allaah masih menitipkan amanahnya untuk saya lahirkan ke dunia… supaya persalinan berikutnya bisa benar-benar gentle. aamiin..

Well, itu tadi detail kisah persalinan saya. semoga bisa menjadikan semangat dan memotivasi Ibu-Ibu di dunia untuk memberdayakan diri agar bisa mendapatkan persalinan yang lembut, nyaman, minim trauma, minim rasa sakit, minim intervensi medis, dan menyenangkan, yang membawa dampak positif untuk si ibu, dan si bayi.. bahkan untuk pendamping persalinan kita (contohnya mama, yang awalnya begitu apathis, sekarang jadi begitu bersemangat menceritakan proses persalinan saya pada teman-temannya.. xixixi)

last but not least..

terima kasih Allaah, untuk pengalaman persalinan yang luar biasa, terima kasih alam semesta yang membantu saya mewujudkan impian persalinan saya, terima kasih Kak Riri yang sudah bekerjasama dengan baik untuk sama-sama mewujudkan cerita persalinan yang mengagumkan..

terima kasih Bidan Kita, atas segala inspirasi, ilmu, semangat, dan cinta yang dicurahkan untuk menyambut kelahiran Kak Riri. terima kasih mama dan Budhe yang sudah luar biasa sabar menanti kedatangan kak Riri..

dan terutama, terima kasih pak suami yang luar biasa, yang mendampingi bunda dengan penuh sabar, dengan penuh kasih. selalu mendampingi bunda selama persalinan. mengingatkan bunda untuk tetap rileks, menenangkan bunda dengan endhorphin massage-nya, dan untuk cinta tak terbatas untuk Bunda dan Kakak.. Bapak memang lelaki terbaik yang dipilihkan Allaah untuk Bunda..

 

21 thoughts on “Birth Story of Aathifah Zafiriah, Gentle Birth ~ part.2

  1. Pingback: Birth Story of Aathifah Zafiriah, Gentle Birth ~ part.1 | pReSty LaRaSati

  2. Love You sayang….
    Love You Kak Riri…terimakasih untuk pelajaran yang diberikan kepada kami😉 belajar untuk sabar dan yakin bahwa semua akan indah pada waktunya. dan itu adalah wktumu bukan waktuku atau waktu bundamu😉

  3. plester jelek … males apdet blog sekarang

  4. Duowooooo… *fast reading,wis ngerti ceritane*
    Haiiii… Ngrusuh lagi yuk😆

  5. Hoooo.. Kuwi pepi tho ? *ngupil*

  6. Pepi ki jik masmoemet po ra ?

    Eh,, gue hetrik.. Gue hetrikkk😆

  7. *ngupil dipojokan, takut kelindes duo big-mom

  8. Astagaaaahhh! Postingankuuh! Hahahaha

    Ayok geret yang lain lagiiih

  9. salam kenal mbk presti dab bu bidan yessi…boleh sya minta alamat lengkap dan nomer telp BK kebetulan saya tinggal di sragen,pengen deh gentle birth🙂 ini sy hamil 5 bulan deg2 an terus inget lahiran nih…

  10. so amazing😀
    persalinan yg penuh persiapan, ga seperti saat aq melahirkan aan..byk hal ga terduga😥 #gataugentlebirthkala itu hehehe..

  11. Siang mba Presty. Seneng ketemu blog ini. Karna memang lagi hunting pengalaman melahirkan di BK. Ini lagi program mba, Bismillah. Waktu pertama denger gentle birth & hypnobirthing, rasa2nya udah bener2 mantap pingin menerapkan ini di kehamilan pertama nantinya. Boleh share mba tentang biaya melahirkan di BK, lalu untuk melahirkan di BK haruskah ikut hypnobirthing prenatal class & prenatal yoga di waktu kehamilan? Thank’s,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s