My Breastfeeding Moments with Kak Riri

10455164_10152599194617647_2018659768407664605_n

Hari ini balita saya sudah berumur 2 tahun lebih 1 bulan 4 hari. dan dia masih menyusui. tepatnya sedang proses Weaning With Love (WWL) a.k.a sapih dengan cinta, tanpa oles pahit2, tanpa suntik2, tanpa paksa2.

Benarlah kata kebanyakan ibu2 itu, ketika sapih, yang berat mengikhlaskan sebenernya si Ibu sendiri. Ibunya yang harus kuat menyapih anaknya dengan penuh cinta.. Sejak Riri berumur 2 tahun, saya mulai gencar sounding, meskipun kebanyakan percakapan saat menyusui berlangsung seperti ini :

kk

*capture from Status FB

dan belakangan, segala cerita menyusui saya bersama Kak Riri menari2 di kepala saya bagai film yang diputar lagi dan lagi….

Mulai saat setelah lahiran, Alhamdulillaah saya dan kak Riri berhasil IMD, meskipun kak Riri merayap nyari Susunya sambil nangis. 3 hari sukses menyusui tanpa bantuan formula, masalah mulai datang. Payudara saya lecet, lecet parah. ditambah seluruh keluarga yang semuanya bukan pendukung ASI eksklusif (kebanyakan keluarga saya wanita pekerja dan kegiatan menyusui pasti dibantu susu formula), belum lagi kak Riri yang menguning dan saya disalahkan karena menurut mereka anak saya kuning karena Susu saya kurang. saat itu saya masih kurang belajar soal menyusui ini, sehingga tidak tahu bahwa kuning saat bayi adalah hal biasa. dan semua kombinasi ini meluruhkan benteng pertahanan saya yang masih minim ilmu, sehingga menyerah berjuang sendiri, meminta bantuan pada susu formula. Parahnya, ini berlangsung hingga usia Kak riri hampir 1 bulan. saya terlena dimanjakan oleh bantuan susu formula. maafkan bunda, nak..

Hingga ketika usianya hampir satu bulan, saya terkena mastitis, payudara saya membengkak dan saya demam selama 2 hari. beruntungnya, saya punya teman2 yang sangat mendukung dan berpengalaman memberikan ASI eksklusif. mulai dari workingmom, dokter, SAHM, bahkan ada teman saya yang anggota AIMI Jawa Tengah. Mereka inilah yang me mberitahu saya bahwa mastitis yang saya derita kemungkinan besar disebabkan oleh kemampuan Kak Riri menghisap berkurang. Karena bayi yang mengenal dot, biasanya akan malas berusaha menghisap (karena tanpa perlu usaha banyak, air dari dot akan keluar). hal ini membuat ASI dari PD saya tidak keluar maksimal. dan saat itu saya mulai mengejar ketertinggalan saya soal ilmu menyusui.

Menyadari kesalahan saya, dibantu seorang konselor laktasi AIMI,saya mulai teguhkan niat menghentikan bantuan susu formula. saya minta kak Riri terus menyusui pada PD saya yang bengkak. saya meminta, memohon suami saya untuk mendukung saya menghentikan pemberian susu formula. Diam-diam saya buang semua dot kak Riri. karena ini salah satu hal yang harus saya lakukan untuk berhenti memberinya susu formula. dan sejak saat itu saya menjadi “galak” pada orang2 dekat saya yang teruus menganjurkan saya menggunakan bantuan susu formula.

Benarlah bila dikatakan kunci sukses meyusui itu HARUS KERAS KEPALA. Keras kepala untuk yakin kita bisa menyusui hingga minimal 2 tahun!

IMG_20140530_152606

dan selanjutnya apakah menyusui saya lancar? TIDAK. ada banyak hambatan setelahnya. Mulai dari mastitis (lagi), milk blister, sampai hasil pumping yang sering kali hanya membasahi pantat botol. ketika mulai bekerja saya sering kejar tayang, sampai mama pernah marah saat suatu hari saya ke kantor, persediaan ASIP di kulkas habis, kak riri menangis, tanpa memberi tahu saya yang sangat bisa pulang ke rumah untuk menyusui, Mama diam-diam memberi susu formula pada anak saya.

Saat itu, maafkan saya mama, saya marah besar pada mama. marah lebih karena merasa bersalah pada anak saya. dan sejak itu, tidak terhitung berapa kali saya berdebat dengan mama mengenai bantuan susu formula, saya keukeuh tidak ingin memberi susu formula.

Ketika mama mulai luruh, masalah yang lebih besar datang. Usia Kak Riri 4 bulan, dan saya terkena penyakit hepatitis. HEPATITIS. Jangan ditanya rasanya bagaimana. ketika nyeri datang, rasa nyerinya lebih hebat daripada melahirkan. apapun yang saya lakukan tidak bisa mengurangi nyerinya. Saya harus menahannya hingga reda sendiri. Hampir satu bulan saya mengerang kesakitan ketika nyerinya kambuh. bagaimana dengan menyusui? beruntungnya saya sudah belajar dan banyak bertanya. dan alhamdulillaah dokter penyakit dalam saya mengijinkan saya untuk terus menyusui. sehingga saya, sambil memperhatikan agar PD saya tidak ada luka agar kak Riri tidak tertular, masih terus menyusui Kak Riri dan pumping selama saya diberi waktu istirahat hampir satu bulan itu. meski saya harus menangis menahan nyeri ketika menyusui. Mama dan suami saya menangis melihat saya ngotot menyusui sambil menahan nyeri. Alhamdulillaah, masa2 itu terlewati dengan baik. Bahkan setelahnya, ASI saya mulai deras. tak ada lagi pumping hanya membasahi pantat botol.

6 bulan pertama terlewati dengan baik. dan alhamdulillaah saat usia Kak Riri 7 bulan, saya berhasil mutasi ke Jawa Tengah, berkumpul dengan suami saya di Solo. tapi sayangnya, saat itu saya tidak bisa langsung mutasi ke Solo. Saya dapat penempatan di Semarang yang berjarak 2,5-3 jam dari Solo. dari hasil perundingan, Kak Riri tidak diijinkan untuk dibawa ke Semarang. padahal usianya masih 7 Bulan dan masih sangat butuh menyusui. tercetus ide saya ngekos di Semarang dan weekend balik ke Solo, tapi saya sungguh tidak sanggup meninggalkan Kak Riri. Akhirnya saya harus rela pulang pergi setiap hari. Pergi pukul 4.30, dan kembali ke rumah pukul 8 atau lebih saat hari Jumat dengan membawa 4-5 botol ASIP untuk Kak Riri. dan alhamdulillaah, saya menikmatinya. meski fisik ini lelah, tapi batin saya senang, karena meski tidak punya waktu untuk bermain, saya masih bisa menyusui Kak Riri langsung saat malam. itu sudah cukup bagi saya.

Bersyukurnya masa itu hanya saya lalui selama 4 bulan. 3 bulan lebih saya menjalaninya, tanpa saya sadari, hepatitis saya sempat kambuh. mungkin karena kelelahan. dan karena itu saya diberi kemudahan yang banyaak oleh atasan2 saya agar bisa pindah ke UPT di Solo. bagi saya, ini hikmah terbesar dari penyakit hepatitis itu. dan saat Kak Riri berusia 11 bulan, saya resmi mutasi ke Solo. Sejak itu, tidak ada lagi kendala besar saat menyusui Kak Riri. dan Alhamdulillaah, hingga saat ini saya masih menyusuinya.

breastfeedng time

10933746_10152599194907647_2229385821292626188_n

Berat rasanya ketika masa WWL ini tiba. karena bagi ibu pekerja seperti saya, menyusui menjadi salah satu senjata ampuh untuk menjalin ikatan (bonding) dengan sang anak.. Tapi mau tidak mau, demi Kak Riri, masa2 menyusui ini harus segera berakhir. semoga ketika Kak Riri siap menyapih dirinya dengan PD saya, saat itu pula saya siap menerima kehilangan masa2 indah menyusui…

2 thoughts on “My Breastfeeding Moments with Kak Riri

  1. Subhannallah…cantik ank gadismu pres…bahagia nian bs ktemu blog kwn lamo..haru nian baco perjuangan mu pres..smg menambah tabungan pahalamu pres..amiin.Alhmdllh amb jg asi eklusif 2thn 2bln penuh perjuangan jg,tp blm apo2nyo dibanding perjuangan kau pres..smg lekas sembuh pres.sehat sllu.
    -Nca bengkulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s